Mengapa Gen Z Takut Public Speaking?

Tayang: 6 July 2026

Bagikan

gen z takut public speaking

Daftar Isi

Daftar Isi

Gen Z, kamu tidak sendirian saat merasa jantung berdebar, tiba-tiba blank waktu diminta untuk presentasi.

Banyak Gen Z sebenarnya memiliki ide brilian, argumen tajam, dan kemampuan analisis yang kuat. Tapi, ketika diminta untuk presentasi / menyampaikannya secara langsung mereka cenderung diam.

Sebenarnya, Gen Z sendiri sudah menyadari hal ini. Dalam laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey (2026) yang melibatkan lebih dari 22.500 responden di 44 negara, public speaking menjadi skill utama yang ingin dikembangkan Gen Z (41%) mengalahkan leadership, AI Fluency, bahkan digital literacy.

Survei ini membawa pada satu realita bahwa rasa takut yang dialami merupakan wujud nyata yang kebutuhan yang disadari sendiri oleh Gen Z secara global

Fenomena”Takut Public Speaking” Pada Gen Z

Sebenarnya fenomena ini bukan hal baru. Public speaking selalu masuk daftar ketakutan terbesar banyak orang, di hampir semua generasi.

Namun, pola-nya lebih menonjol muncul pada Gen Z dibandingkan generasi lainnya. Salah satu contoh nyatanya adalah sebagai berikut:

  • Lebih memilih diam saat rapat daripada mengemukakan pendapat,
  • Lebih nyaman menulis di chat daripada menyampaikan secara lisan,
  • Ketergantungan pada naskah ketika berbicara di depan umum,
  • Selalu menghindari momen presentasi / berbicara di depan kamera.

Sikap ini sebenarnya muncul bukan tanpa penyebab. Berdasarkan hasil survei Deloitte (2026), 34% Gen Z merasa selalu cemas dan stress dan hampir 48% Gen Z mengaku pernah mengalami burnout.

Tentu, tekanan yang sedang dialami berturut-turut akhirnya berpengaruh pada momen dimana mereka harus tampil di depan umum, karena beban mental yang diperlukan jauh lebih besar.

Jadi, Gen Z takut bukan karena tidak mampu, tapi kapasitas mental sedang terbagi pada banyak tekanan lainnya.

Penyebab Gen Z Lebih Rentan Takut Public Speaking

Beberapa penyebabnya adalah sebagai berikut:

Minim Jam Terbang Berbicara Langsung

Lahir di era komunikasi online, dimana mayoritas komunikasi dilakukan via teks, membuat porsi latihan berbicara secara spontan di depan banyak orang menjadi berkurang dibandingkan generasi sebelumnya yang lebih sering berkomunikasi secara tatap muka.

Padahal, public speaking merupakan kemampuan yang terbentuk dari adanya pengulangan. Semakin jarang dilatih, maka semakin asing seseorang untuk melakukannya. Begitupun sebaliknya.

Terbiasa Punya Waktu untuk “Mengedit” Sebelum Komunikasi

Salah satu sisi positif ketika melakukan komunikasi secara online adalah bisa ‘diedit’ sampai terasa puas, baik sebelum pesan dikirimkan ataupun sesudahnya.

Sedangkan, public speaking tidak memberikan ruang bagi seseorang untuk melakukan tombol ‘undo’. Ketiadaan ini akhirnya membuat Gen Z jauh lebih cemas untuk berkomunikasi secara langsung.

Takut Dinilai Secara Real-Time

Gen Z merupakan generasi yang paling akrab dengan media sosial. Sebenarnya, mereka sangat terbiasa dengan penilaian publik, seperti likes, komentar, share. Namun, ketika berbicara di depan umum, itu menjadi hal yang berbeda.

Di media sosial, ada jarak dan waktu sebelum menerima penilaian. Sedangkan, public speaking, penilaian akan langsung tampak pada wajah audiens. Tentunya, rasanya lebih intens dibandingkan interaksi secara digital.

Kurangnya Ruang Latihan Secara Bertahap

Baik di sekolah atau tempat kerja, kesempatan untuk berlatih selalu minim.

Kebanyakan orang baru ‘dipaksa’ tampil ketika momennya sudah besar, seperti pitching dengan klien, forum penting, tanpa pernah diberi ruang latihan kecil-kecilan sebelumnya.

Ekpektasi Tinggi Pada Diri Sendiri

Gen Z tumbuh dengan akses tanpa batas pada konten “sempurna”, mulai dari pembicara TED Talk sampai pada kreator konten yang selalu tampil percaya diri di depan kamera.

Sering tak disadari, perbandingan ini membuat penetapan standar terhadap diri sendiri menjadi tidak realistis. Padahal, public speaking itu adalah proses. Butuh proses jatuh bangun berkali-kali sampai akhirnya berhasil dikuasai.

Bagaimana Dampaknya dalam Dunia Kerja?

Dengan berbagai penyebab yang telah disebutkan sebelumnya, tentu ada dampaknya dalam dunia kerja, di antaranya:

Ide Bagus Sering Tidak Disampaikan

Gen Z selalu dicap sebagai generasi yang penuh dengan ide out of the box.

Namun, rasa takut berbicara di depan publik menyebabkan banyak ide bagus itu tidak pernah tersampaikan. Argumen kuat yang seharusnya berdampak pada pekerjaan mereka menjadi tidak pernah didengarkan karena mereka memilih untuk diam.

Dianggap Terlalu Pasif dan Kurang Percaya Diri

Terlalu banyak diam menyebabkan Gen Z dianggap terlalu pasif dan kurang percaya diri. Padahal, masalah sebenarnya hanya pada rasa cemas ketika menyampaikan gagasan bukan pada kompetensi.

Kehilangan Kesempatan Untuk Promosi

Dikarenakan terlalu banyak diam, beberapa orang akhirnya menjadi tidak terlihat, sehingga kesempatan untuk tampil seperti presentasi ke klien, memimpin rapat yang sebenarnya bisa menjadi batu loncatan akhirnya ikut terlewat juga.

Public Speaking Merupakan Skill, Bukan Bakat Bawaan

Betul, kabar baiknya adalah rasa takut akan public speaking dapat dikelola menjadi energi yang positif dengan sedikit ‘paksaan’ agar rasa percaya diri perlahan terbentuk.

Baca juga: Belajar Public Speaking untuk Meningkatkan Kepercayaan Diri

Beberapa langkah awal yang dapat kamu lakukan adalah sebagai berikut:

  • Latihan membuat daily vlog storytelling sederhana,
  • Sebelum mulai merekam, siapkan struktu cerita-nya terlebih dahulu, bukan hafalan script secara keseluruhan,
  • Latih nafas sebelum berbicara,
  • Evaluasi mandiri, mulai dari penggunaan kata-kata, intonasi, dan bahasa tubuh.

Lebih detail lagi, kamu juga dapat mengikuti kelas Kilau Speak Alvin Adam Academy untuk mendapatkan feedback dan praktik langsung dengan para pembicara berpengalaman.

Dapatkan juga kesempatan untuk belajar langsung dari Alvin Adam (Indonesia’s Talk Show Icon).

Cek jadwal selengkapnya di sini.

kilau speak, Public Speaking